Berjuang

Suatu hari ketika saya bertanya, apa yang bapak mau lihat dari calon suami biba? Ada dua hal utama yang bapak lihat. Pertama, solat. Solat itu bukan sekedar asal dilaksanakan. Orang yang menegakkan solat itu ya yang solatnya awal waktu, berjamaah di masjid lima kali dalam sehari. Kalau seseorang sudah berhasil melakukannya secara continue, insyaallah keseluruhan pribadinya adalah baik. Kedua, aktifitas sosial. Bapak akan bertanya, ikut organisasi ga? Ada aktifitas selain kampus atau kerja ga? Mungkin ikut klub sepakbola. Mungkin jurnalistik. Mungkin Hizbut Tahrir. Mungkin Tarbiyah. Karena hidup itu bukan sekedar kerja kantoran. Buat apa hidup kalau cuma dihabiskan untuk cari duit? Apalagi kalau seorang muslim, hidupnya ya untuk berjuang menegakkan ajaran Allah.

Perjuangan. Satu kata yang masih saya eja secara berlahan hingga saat ini. Jelas saya tidak akan membiarkan hidup saya menjadi biasa-biasa saja, namun saya perlu waktu untuk berpikir dan menelaah. Orang tua saya tidak pernah menggiring saya untuk masuk jalan tertentu. mereka membiarkan saya bergaul secara luas dan melihat kondisi sekitar. Saya sempat bingung dan bertanya,aku harus apa? Semua temanku ikut ini dan itu. Mereka hanya tersenyum. Yang penting ikut ahlussunnah wal jamaah, artinya ya berpegang kepada sunnah. Nanti kalau biba pulang ke Indonesia, insyaallah jalan akan terbuka, kata mereka.

Image

Saya lahir di keluarga pejuang. Dari buyut, kakek, sampai ayah dan ibu saya. Mereka memang tidak dikenal seperti Pangeran Diponegoro atau Yusuf Qaradawi. Tapi hidup mereka tidak sama dengan orang kebanyakan. Bapak dan ibu saya adalah dokter, namun hidup mereka tidak terbatas pada rumah sakit dan rumah. Diluar sana mereka bergerak, mengumpulkan massa, mewarnai kota dengan nilai yang mereka bawa. Beberapa orang menyukai dan memutuskan untuk ikut bersama mereka. Ada juga yang merasa terganggu, kemudian menyebarkan kebencian dan fitnah. Kakek dari ibu dulu sempat lari ke Papua setelah masuk ke daftar bunuh PKI, karena aktifitas dakwah beliau. Tapi mereka ikhlas, memaafkan, dan meneruskan perjalanan. Ada keyakinan yang mereka pegang teguh. Allah. Sebuah keyakinan yang menguatkan hati. Menguapkan segala kepenatan. 

Jalan perjuangan mana yang akan saya masuki, sejujurnya saya pun belum memutuskan apapun. Satu yang saya tahu pasti , saya akan memperjuangkan apa yang saya percaya. Allah dan RasulNya. Islam dan ajarannya. Berjuanglah dengan apa yang kamu punya! Yang dokter, berjuang dengan menolong pasien. Jurnalis berjuang melalui tulisan. Kamu sekarang punya ilmu ekonomi islam, maka itu yang jadi alat perjuanganmu! Kata bapak suatu hari. Saya percaya bahwa semua dari  Islam itu yang terbaik, dan akan saya perjuangkan sampai Allah memanggil.

 

 

A Long Journey to Tsim Sha Tsui

I once asked my dad to have our family excursion in South Korea. He replied, he won’t pay my tickets merely to have ordinary oversea trips. If I really want to go, I shall use my own money.

Hence when air asia offered cheap tickets to Macau, I decided to purchase two return tickets for March 2013. It was July 2012, so I had eight months to collect some money for accommodation. Baca lebih lanjut

Kekuatan Kata – Kata

Suatu ketika ada Oom saya menulis tentang Fatin, sang juara kompetisi X-Factor Indonesia. Waktu itu Fatin masih belum juara, dia menyanyikan lagu berjudul “It Will Rain” yang dipopulerkan oleh Bruno Mars. Oom saya menyayangkan kenapa Fatin mau menyanyikan lagu dengan lirik yang cukup menentang aqidahnya sebagai seorang muslimah. Perhatikan lirik ini :

Baca lebih lanjut

My First Friends

The first time I watched a movie in a cinema. I was very small back then, my parents took me out to watch the human version of pinokio. A few years later my father, again brought me to watch air bud in cinema 21. I started to enjoy it, and it becomes my favorite to watch a good movie in the cinema. Baca lebih lanjut