Posted by: beebob on: Agustus 22, 2009
Assalamualaikum..
Beberapa waktu lalu, saya menonton seri pertama dari trilogy merah putih. Ga berniat dibahas itu film perjuangan ato sejarah ato apa, soalnya aku juga kurang tau itu setting waktunya kapan. Yang terlihat samar-samar sih, waktu revolusi. Agresi Belanda ke berapaaa gitu.
Ada beberapa hal yang menarik buat saya dalam film itu, dan masih nyangkut di kepala sampe sekarang.
Pertama, di film merah putih ini secara tersirat dijelaskan bahwa para istri atau saudara perempuan dari para pejuang revolusi saat itu, kurang mendukung suami atau saudara mereka menjadi pejuang revolusi. Pada kenyataannya, benarkah demikian? Kalau iya, kenapa? Maksud saya, mengapa kesadaran mereka untuk mengikhlaskan suami atau saudara lelaki mereka justru kurang?
Padahal, seorang wanita mukmin kan tidak seharusnya demikian. Apalagi kalau dalam Islam, syahid itu mulia. Jadi kenapa kita tidak mengikhlaskan saja apabila ada saudara atau suami kita berangkat untuk berperang di jalan Allah? bukan hanya masalah suaminya itu bakal mati ato enggak, tapi kan ini untuk Negara? Untuk Allah? Why not? Membela Negara itu termasuk berjuang di jalan Allah lho, kalau niatnya memang untuk Allah…
Kedua, ada kalimat yang masih terngiang di kepala saya hingga sekarang. Dialog antara lukman sardi dengan muridnya. Saat itu sang murid kurang lebih berkata begini , “bapak bisa-bisanya mengajar dengan tenang disini, sedangkan orang lain di luar sana berjuang demi revolusi Indonesia??’.
Well, apakah semuanya harus berperang dengan senjata? Kalau semuanya berperang secara fisik, siapa yang akan menciptakan generasi khairu ummah yang tidak akan dibohongi oleh para penjajah? Mengajar itu termasuk berjuang, bro! Jika memang diniatkan untuk berjuang karena Allah dan berniat mendidik muridnya biar ga kena akal-akalan penjajah…
Berjuang itu butuh jamaah. Ada guru, tentara, dokter, ilmuwan, negarawan, insinyur, semua berjuang dengan apa yang mereka punya. Tidak harus menjadi tentara.
Menjadi mukmin, ya harus berjuang. Itu kata bapak saya..hehehe. tapi aku rasa itu benar! Apalagi untuk kita, an Indonesian muslim. Islam lagi digerogoti sana-sini, Indonesia juga lagi dijajah secara kasat mata.
Perjuangan itu ga berhenti pada kakek-nenek kita, saat Indonesia merdeka 64tahun lalu. Perjuangan itu ga berhenti saat jilbab akhirnya dibolehkan di Indonesia, perancis dan Jerman. Perjuangan itu masih belum selesai, bahkan medannya lebih berat lagi sekarang. Musuh ga terlihat, bahkan sebagian besar dari kita tidak sadar bahwa kita sedang dijajah.
Di tengah-tengah orangorang yang menjual negri sendiri ke tangan asing dengan harga murah, orangorang yang merusak agama sendiri dari dalam, pemuda yang tidak peduli dengan kondisi agama&Negaranya yang sedang carut marut, pemuda yang dengan bodohnya terbuai dengan godaan asing yang merasa mereka itu benar dengan mengikuti apa kata mereka padahal aslinya mereka itu diracuni pikirannya pelanpelan, dimana kita? Mau masuk kemana kita?
Bangunlah wahai saudaraku, ayo kita lanjutkan perjuangan para pendahulu kita yang telah berjuang dengan mengorbankan seluruh jiwa dan raganya, dan hanya mengharap imbalan dari Allah semata. Jangan terlena dengan apa yang kita dapat sekarang dari musuh (did I say ENEMY??yeah,it’s enemy. They’re really our enemies). Bangun jamaah, rapatkan shaff solat, berjuang dengan apa yang kita punya. Untuk Islam dan Indonesia.
wassalamualaikum

LOMBANE WES BUBAR BIL…!!!
KOWE RA MOCO MILIST PIE..???
hai…salam kenal ya..
Agustus 22, 2009 pada 3:19 pm
iya,mari rapatkan shaff..!
jangan malas utk shalat berjama’ah d masjid,terutama shalat subuh.