Ketidakpastian Sinyal Perasaan

Beebob belum pernah membahas tentang hal ini sebelumnya, tapi karena beberapa waktu lalu terjadi pada lingkungan sehari-hari ya jadi kepingin nulis tentang hal ini. Apa coba? Tentang ikhwan a.k.a lelaki a.k.a cowok yang berinteraksi berlebihan terhadap lawan jenisnya.

Yah emang biasa sih liat cowok begitu. Jadi yang mau aku bahas ini yang ga biasa, yaitu cowok yang udah ikutan ngaji. Biasa kalau di Indonesia disebut dengan istilah “ikhwan”. Padahal sebenarnya ikhwan itu artinya “brother” kan ya, berlaku buat semuanya. Tapi entahlah, di Indonesia ni emang istilah dari bahasa Arab memang suka dikaitkan dengan orang tertentu.

Logikanya sih ya, makin jauh seseorang belajar mengenai hukum agama tentu makin paham hukum dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Yang jaga pandangan, jaga ucapan, dll kita semua tau lah.

Sekarang kalau ada orang yang ga konsisten sama keyakinannya akan hukum Allah itu, kadang bikin ga respect ya?

Dia bicara tentang pentingnya menikah dan bukan pacaran, dia bilang kalau ada perempuan soliha yang cocok akan langsung “ditembak untuk jadi istri”. Tapi dalam praktiknya, proses pencarian jodoh dilakukannya dengan cara yang kurang ahsan (baik). Ngobrol berlama-lama, telepon (dan membahas hal yang sebenarnya ga penting), trus kalau udah merasa cocok mulailah mengirim sinyal. Sinyal apaan? Tau deh. Sinyal untuk pacaran, enggak. Sinyal untuk menikah, ga juga. Sinyal perasaan kali ya?

Sinyalnya juga bermacam-macam. Ya udah kaya cowok pedekate ke cewek yang mau dijadiin pacar deh, cuma lebih halus aja caranya. Kalau orang pedekate ke pacar suka minta dibangunin buat kuliah pagi, ini minta dibangunin buat tahajud. Atau malah nawarin buat bangunin tahajud. Kalau orang pedekate pacar biasa ngajak jalan ke mall, ini ngajakin buat ke halaqah sama-sama. Kalau di depan umum ga keliatan bareng, malu kan kalau diliat orang. Tapi kalau udah di handphone, rapet banget tuh. Kebayang kan?

Apakah itu bisa disebut ajakan untuk menikah? I’d say, no. iya emang ngirim sinyal, tapi bukan sinyal untuk menikah. Sinyal untuk menikah yang hakiki dan nyata itu cuma ada satu : propose langsung. Boleh lewat murabbiyah, teman, atau langsung ke cewek itu. Atau langsung ke orangtua. Langsung propose, dan setelah itu si cewek kasih jawaban : iya atau enggak. That’s all.

Sinyal pedekate itu ga akan ada habisnya. Yang ada malah bikin keasyikan untuk terus berada dalam hubungan tanpa status. Mau kemana? Ya si cowok mungkin bakal bilang “aku mau liat dulu cewek ini kasih sinyal balik ga. Kalau iya ntar kita lanjut.” . mau sampe kapan kaya gitu? Sinyal kan sesuatu yang ga tersirat. Ya macam twitter lah, ga mewakili diri kita sepenuhnya. Tidak pasti, and I hate that. Yang seperti ini, arah maksiatnya udah pasti. Tapi arah pahala nya belum jelas. Analoginya sama kaya orang solat. Kita ga tau solat kita bakal diterima apa enggak sama Allah, tapi sekalinya kita ga solat udah jelas kita dapet dosa.

Ketidakpastian, satu lagi yang buat aku makin ga suka dengan cara seperti ini. FYI, girls can easily fall to somebody. Nah kalau si cewek hatinya udah terlanjur merah jambu karena dikasih sinyal-sinyal cinta dari si cowok, tapi ternyata dalam perjalanan menuju proposal (ini baru proposal ya, setelah saling mengirim sinyal dalam jangka waktu yang lama) si cowok suka sama orang lain. Mau menuntut? Lapor kemana? Toh emang dari awal ga ada hubungan. Kalau pacaran sih bisa ya putus gitu. Kalau nikah, bisa divorce. Lah ini?

I am not saying a nonsense thing, banyak loh yang mengalami patah hati dengan cara itu!

Itulah kenapa dalam sebuah pembicaraan dengan dua orang teman baik (yang keduanya lelaki), aku bilang jangan menyatakan perasaan kalau emang belum siap bertanggung jawab. Sebab perempuan (kalau udah suka) pasti akan menunggu, padahal kita ga tau apa yang terjadi di masa depan. Bisa jadi hari ini kita ngarepin si A buat jadi jodoh kita, ternyata malah si B.

Entahlah, but I really think that in terms of making mistakes, orang-orang yang pacaran itu  much better than the kind of guys. These guys are somewhat worse, because they’re trying to mix the haqq and bathil.

6 pemikiran pada “Ketidakpastian Sinyal Perasaan

  1. hahaha… makanya, tunggu 500 hari saja… kalau emang gak jodoh, ya sudahlah ya… mau dibantu 7 miliar orang pun, tetep gak bisa…

    aku lho, ndak pernah nelpon cewek buat pdkt, *lha wong cuman 1 orang, itupun dipause…

    kalau iya bilang iya, kalau enggak bilang enggak…

  2. Reblogged this on Sebiru Hari Ini… and commented:
    Setuju. termasuk ngasih2 hints yang bikin si cewek berspekulasi, sampe akhirnyabkegeeran, dll. well, salah akhwatnya mungkin ya kalau kegeeran. tapi yang ikhwan juga jangan memulai. selama belum propose ke ortu (atau tukeran CV kalau pas taaruf) lebih baik tidak usah terlalu diumbar hints2 perasaan itu. itu antara kamu dan Allah aja yang tau. karena apa? you give a hope dude. dan akhwat itu kalau udh dikasih harapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s