Lihatlah Seorang Anak Perempuan dari Ayahnya

Baru-baru ini saya menonton sebuah serial drama dari Korea Selatan berjudul “The Moon That Embraces The Sun”. Drama ini cukup bagus menurut saya,tapi saya tidak akan membahas lebih jauh mengenai cerita dan pemain di dalamnya. Pasti sudah banyak blogger fans korean series yang menuliskannya.😀

Ada satu hal yang menarik perhatian saya disini. Satu hal yang sangat kecil dan tidak banyak orang “ngeh”, padahal penting loh. :-p

Dalam drama yang mengambil setting jaman Jeoseon (ratusan tahun yang lalu,waktu korea masih berupa kerajaan) tersebut digambarkan bahwa orang di jaman itu melihat latar belakang keluarga sebagai identitas seorang gadis. Terutama ayah. Ketika kita berkenalan dengan seorang gadis,maka dia akan berkata bahwa dia adalah putri dari si Fulan. Dalam salah satu adegan saat sang Raja Jeoseon sedang mencarikan teman belajar untuk putrinya, beliau pun mencari lewat para ayah. Anak siapa yang bisa jadi teman belajar yang baik untuk putri tercintanya?

Saya kemudian teringat akan sebuah perkataan dari ustadz Salim A. Fillah. Melalui twitter,ada seseorang yang bertanya  kurang lebih “Kalau begitu,pada jaman Rasulullah SAW bagaimana cara mereka mengetahui siapa perempuan yang pantas dijadikan istri?” . Beliau menjawab “Dari ayahnya. seorang putri pasti mencerminkan sifat ayahnya. Jadi tinggal dilihat siapa sang ayah. Kalau mau tahu sifat ‘Aisyah, lihatlah Abu Bakr. Mau tahu sifat Fatimah, lihat Rasulullah. Tidak perlu bertemu langsung dengan si gadis.”

Mungkin kultur di jaman Rasulullah mirip seperti ini juga, begitu pikir saya saat menonton “The Moon That Embraces The Sun”. Jadi seperti itulah contoh yang diberi oleh Rasulullah¶ sahabatnya. Indah sekali. Jauh berbeda dengan jaman modern ini ketika anak perempuan dibiarkan saja tumbuh besar di luar rumah, lalu saat ada orang yang ingin melamarnya baru bertanya “Ayahmu yang mana?”. Dan sepertinya sekarang jarang ada ayah yang mampu meyakinkan orang lain kalau anknya itu ya sama baiknya dengan dia. Pokoknya harus lihat anaknya dulu, baru bisa menilai.Iya ga sih? :-p

Kalau kultur kita masih seperti yang diajarkan Rasul, mungkin para perempuan akan lebih berhati-hati dalam berbuat. Sebab yang dilihat bukan hanya dia, tapi ayah dan ibunya. Keluarganya. Agamanya.
Salah satu dialog dalam drama yang saya tonton itu, “Ibu, aku ingin melakukan yang terbaik. Aku ingin membuat orang lain tahu kalau aku ini anak ayah”
Kalau sekarang, saat para gadis berkata kasar, berlomba membuka aurat, bahkan ikut merokok dan minum alkohol, apakah mereka masih ingat orang tua mereka? Apakah mereka ingin orang lain berpikir “Wah ternyata anak pak Fulan seperti ini…”?

Sungguh sebuah peringatan yang sangat jelas untuk saya, bahwa betapa sekarang ini lebih banyak gadis yang tumbuh berkembang di luar rumah. Bahwa sekarang ini, para orang tua seakan kurang menurunkan nilai dan wisdom mereka kepada putri mereka. I wish, kalau saya punya anak perempuan, akan saya pastikan at least 80% nilai dan kepribadiannya mengambil dri orang tuanya. Dari rumah. Well, saya harus belajar dari sekarang biar bisa jadi ibu yang baik untuknya. Semoga Allah mudahkan…

Peringatan yang lebih keras, atau mungkin bisa dibilang sebuah tamparan, adalah apakah saya sudah sebaik ayah saya? Do I really resemble my father? When people look at my father, can they expect to see the same good personality in his daughter? Or is it too high to expect?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s