Bergantung Kepada Allah

Seberapa jauh kita merasa membutuhkan Allah? Seberapa jauh kita merasa bergantung kepada Allah?

Suatu hari di bulan Maret 2012, saya mendapat tawaran untuk ikut menjadi surveyor dalam suatu project yang sedang dikerjakan oleh lecturer kami. Kerja tidak berat, hanya menjadi surveyor. Masa kerja diperkirakan lima hari selama libur tengah semester. Well, waktu itu saya memang tidak belum ada rencana untuk mengisi liburan. Kalau saya ikut project ini, waktu saya akan terisi dengan hal yang bermanfaat. Saya juga akan mendapat pengalaman yang bagus. Terlebih lagi, gajinya lumayan juga. It’s a good deal for me.

Sayapun mengajak salah seorang teman baik saya untuk ikut menjadi surveyor, dan membuatnya galau. Kenapa? karena rumahnya yang di Singapura hanya berjarak lima jam dari KL,dan dia ingin pulang. this is gonna be a good experience for her, but she wants home. Bingung kan? Kemudian dia solat, bertanya pada Allah dan meminta keputusan terbaik untuknya. Singkat cerita akhirnya dia ikut menjadi surveyor, and guess what? Survey itu selesai dalam waktu tiga hari, karenanya dia bisa langsung pulang ke SG dan bisa menghabiskan sisa liburan di rumah. Alhamdulillah.

Lain hari di bulan Ramadhan 1433, ketika ibu saya menanyakan tanggal kepulangan saya. Saya belum bisa menjawab pasti, karena jadwal ujian pun belum keluar. Ibu bilang, lebih baik beli tiket sekarang supaya tidak mahal dan kalau bisa pulanglah lebih awal jangan mepet lebaran. Well, who doesn’t want to get home early for lebaran? Saya dan teman-teman sekelas saya tidak pernah absen menanyakan hal ini kepada ustadz kami : kapan final exam? Kapan kami bisa pulang? Hahaha… waktu itu subject yang saya ambil memang hanya bahasa arab. Jadi terbayang kan rasa ingin menyelesaikan kelas ini secepat mungkin dan pulang ke rumah.

Ustadz saya akhirnya berkata, “Saya tahu kalian semua ingin pulang ke negara masing-masing. Tapi saya pun belum tahu pasti kapan final exam kalian. Lebih baik mulai dari sekarang kalian berdo’a kepada Allah, memohon agar exam kalian diadakan lebih awal jadi kalian bisa cepat pulang.”

Saya sampaikan perkataan tersebut pada ibu. Ibu menjawab, memang betul kata ustadzmu itu. Ibu juga sekarang berdo’a biar kamu bisa cepat pulang.

Saat itu, teman-teman saya yang lain terlihat meremehkan perkataan ustadz kami. Ada yang bilang, “Yah ngapain berdo’a cuma buat hal kecil kaya gitu. Mending minta buat final exam dilancarkan.” Anyway it happened. Final exam untuk subject kami diadakan seminggu sebelum orang lain memulai exam mereka, yang artinya saya bisa cepat pulang. Alhamdulillah!

Apa yang kalian lakukan apabila berada di dalam dua situasi tersebut? Berharap memang iya, tapi akankah kita betul-betul menyampaikannya dalam do’a setelah solat kita?

Makin tinggi tingkat keimanan seseorang, maka rasa kebergantungan dirinya kepada kekuasaan Allah pun makin tinggi. Sekecil apapun itu, orang yang memang bertaqwa akan menyadari bahwa itu terjadi karena Allah mengijinkan. Itu membuatnya untuk berani meminta, berdzikir terus-menerus dalam keadaan apapun.

Teman Singapura yang saya ceritakan di atas tadi selalu meminta petunjuk Allah dalam hal sekecil apapun. Memilih subject yang akan diambil semester depan, misalnya. Ketika dia bingung, dia akan mengambil air wudhu, solat dan mohon pada Allah untuk diberi subject yang bagus untuknya semester depan. Masya Allah ya?

Sama dengan ibu saya. Ketika dalam kondisi panik karena terlambat masuk kelas, atau berada di tengah kemacetan kota, ibu selalu menyuruh saya untuk berdzikir. Mohon kepada Allah untuk dilancarkan jalan ke tempat tujuan. And that’s it, tiba-tiba ada mobil tidak dikenal berhenti dan menawarkan tumpangan untuk pergi ke fakultas (ini betul-betul terjadi berulang kali pada saya). Atau tiba – tiba jalanan lancar tanpa macet dan ibu saya bisa sampai ke tempat tujuan tanpa terlambat.

Saat tiba-tiba perut adik mules dan ingin buang ar besar, padahal waktu itu kami sedang dalam perjalanan dan tidak ada toilet yang bisa disinggahi. Ibu menyuruh adik saya untuk bersholawat. Teruskan solawat sampai ada jalan keluar. Eh tiba-tiba rasa mules itu hilang dengan sendirinya. Padahal cuma hal kecil loh, perut sakit. Tapi kita serahkan juga pada Allah.

Ini memang masalah tauhid. Kadang kita berpikir, ah kalau masalah sepele untuk apa kita minta sama Allah? Itu salah besar sebenarnya. Bukankah pertanyaan seperti itu menandakan kesombongan? Merasa bahwa kita bisa menyelesaikan masalah kita sendiri. Lupakah kita kalau daun saja tidak akan jatuh tanpa seijin Allah?

Na’udzubillahimindzalik, semoga Allah melindungi kita dari sifat sombong dan syirik. Wallahu a’lam bisshowab

2 pemikiran pada “Bergantung Kepada Allah

  1. good write. Soal paling mendasar soal tauhid. Kemarin pernah menggagas hal ini untk strategi da’wah scr umum, tapi ditentang dgn alasan syari’ah nya sprti disingkirkan.

    But that wasn’t the point, sbb di setiap kegiatan mmg harusnya ada penekanan di tauhidnya dlu. Ustadz @derrysulaiman akhirny bs gandeng musisi2 dan seniman yah krn bukan pendktn tentang musik atw seni itu haram, tpi ajakan untuk salat dn mengembalikan smwny pd Allah SWT, dan itu membuat mreka nggak tertekan.

    How is your opinion about tauheed from Ustadz Yusuf Mansur version? Many contradiction i thought, tetapi seenggakny ada pengalaman yg mengembalikan org akhirnya salat lagi stlh mengikuti ceramah beliau. Motivasinya salat? yah who knows lah, mana ada yang tahu isi hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s